Devosi Api Cinta Dan Persiapan Pembaktian Diri
Refleksi Hari Pertama : Panggilanku Dalam Dunia
Oleh : Stanley AQ Mandolang
Devosi Api Cinta Hati Maria Yang Tak Bernoda, seperti yang diungkapkan melalui Buku Harian Rohani Elizabeth Kindelmann, dan dari tema hari pertama Persiapan Pembaktian Diri kepada Yesus melalui Maria selama 33 hari, mengundang kita untuk merefleksikan secara mendalam tujuan kita sebagai orang Kristen di dunia. Tema “Panggilanku Dalam Dunia” berbicara tentang panggilan kita untuk hidup demi kemuliaan Allah, menolak roh dunia, dan merangkul kehidupan yang suci melalui bimbingan Maria. Refleksi ini diambil dari Buku Harian Rohani Api Cinta, Bakti Sejati dan Persiapan Pembaktian Diri yang ditulis oleh Santo Montfort untuk mengeksplorasi bagaimana kita dipanggil untuk ditransformasikan dan mengubah dunia melalui rahmat Hati Maria yang Tak Bernoda.
Api Cinta dan Panggilan Kita
Devosi Api Cinta, yang berakar pada pesan-pesan yang diberikan kepada Elizabeth Kindelmann antara tahun 1961 dan 1983, menekankan panggilan mendesak untuk berpartisipasi dalam keselamatan jiwa-jiwa melalui pencurahan rahmat dari Hati Maria Yang Tak Bernoda. Santa Perawan Maria berkata kepada Elizabeth, “Setan mengerahkan upayanya untuk menghancurkan jiwa-jiwa. Musuh abadinya adalah Perawan Maria yang Terberkati. Perawan Maria memperoleh dari Bapa surgawi, melalui jasa-jasa sengsara Putera-Nya Yang Mahakudus, suatu pencurahan rahmat yang begitu besar yang belum pernah ada sejak Sabda menjadi Manusia” (Kata Pengantar Buku Harian Rohani, hlm. 21). Rahmat ini, yang digambarkan sebagai “Api Cinta”, adalah rahmat ilahi yang membutakan Setan, menguduskan jiwa-jiwa, dan mempercepat Kemenangan Hati Maria Yang Tak Bernoda. Panggilan kita, seperti yang diuraikan dalam buku harian ini, adalah untuk menerima dan menyebarkan Api Cinta ini melalui doa, pengurbanan, dan bakti, terutama dengan menambahkan permohonan, “Curahkanlah ke atas seluruh umat manusia efek rahmat Api Cintamu,” pada Doa Salam Maria.
Buku harian Elizabeth mengungkapkan bahwa panggilan kita di dunia ini tidak bersifat pasif, tetapi aktif dan penuh pengurbanan. Maria menginstruksikan, “Muliakanlah Putera Ilahiku dan lakukanlah silih. Ia sangat sering dihina” (Buku Harian Rohani, hal. 35). Panggilan untuk memuliakan dan melakukan silih ini menggarisbawahi peran kita sebagai rekan penebus bersama Kristus, bersatu dengan hati Maria, untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Buku harian ini juga menekankan bakti yang berfokus pada keluarga. Maria mendorong para orang tua untuk berkumpul dan berdoa dengan anak-anak mereka dan menjadikan keluarga sebagai tempat kudus dan perlindungan (Buku Harian Rohani, hlm. 203). Maka, panggilan kita adalah untuk menjadikan hidup dan rumah kita sebagai tempat kudus yang penuh rahmat, di mana Api Cinta menyala dengan terang, melawan kegelapan dunia.
Buku harian ini juga menyoroti kekuatan transformatif dari cinta yang berkurban. Pengalaman Elizabeth, yang disamakan dengan pengalaman St. Theresia dari Lisieux, mengungkapkan bahwa bakti yang sejati membutuhkan kerelaan untuk menderita bagi jiwa-jiwa. Maria meminta usaha yang lebih intensif, seperti puasa roti dan air (dalam budaya Indonesia adalah mutih yaitu makan nasi putih dan minum air putih) dan melakukan vigili (doa malam), untuk memperdalam persatuan kita dengan Tritunggal Mahakudus. Hal ini mencerminkan panggilan kita untuk hidup di dunia tetapi bukan untuk dunia, mengubah “ketiadaan kita menjadi api” melalui cinta dan pengurbanan, seperti yang digambarkan oleh St. Theresia dari Lisieux (Kisah Suatu Jiwa, Manuskrip B – Bab IX, hal.363).
Persiapan Pembaktian Diri Santo Louis de Montfort: Bagian 1 – Menolak Dunia
Pada bagian pertama dari 33 hari Persiapan Pembaktian Diri menurut Santo Montfort, kita memulai periode 12 hari yang difokuskan untuk mengosongkan diri kita dari roh dunia, yang bertentangan dengan roh Allah (Bakti Sejati No.78-81). Montfort mengajarkan bahwa roh dunia – yang ditandai dengan kesombongan, materialisme, dan kemandirian – bertentangan dengan kerendahan hati dan ketergantungan kepada Allah yang diteladankan oleh Maria. Refleksi hari pertama mengajak kita untuk memeriksa hati nurani kita, berdoa, dan mempraktikkan penyerahan diri untuk menumbuhkan kemurnian hati. Hal ini selaras dengan panggilan kita untuk menolak nilai-nilai duniawi dan menyelaraskan hidup kita dengan Kristus melalui Maria.
Santo Montfort merekomendasikan doa-doa seperti Veni Creator Spiritus dan Ave Maris Stella, di samping bacaan-bacaan dari Kitab Suci dan karya-karya seperti Mengikuti Jejak Kristus oleh Thomas à Kempis. Latihan-latihan ini membantu kita mengenali keterikatan kita pada hal-hal duniawi dan mencari rahmat Roh Kudus untuk melepaskan diri dari hal-hal tersebut. Santo Montfort menulis, “Pengenalan akan diri sendiri sangat penting untuk pengenalan akan Allah”, mengingatkan kita bahwa panggilan kita dimulai dengan kerendahan hati dan kesadaran diri, mengakui ketergantungan kita pada rahmat Allah melalui perantaraan Maria.
Sintesis: Panggilan Kita Melalui Hati Maria
Baik devosi Api Cinta maupun Pembaktian Diri menurut Santo Montfort mengungkapkan bahwa panggilan kita di dunia adalah untuk menjadi bejana rahmat ilahi, hidup dalam persatuan dengan Kristus melalui Maria. Api Cinta menekankan misi aktif untuk membutakan Setan dan menyelamatkan jiwa-jiwa melalui doa dan pengurbanan, sementara hari pertama persiapan menurut Santo Montfort memanggil kita untuk menolak roh dunia sebagai dasar untuk misi ini. Maria, sebagai ibu rohani kita, membimbing kita kepada Putranya, mengajar kita untuk berkata, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Lukas 1:38). Hatinya yang Tak Bernoda, sumber Api Cinta, menjadi teladan dan tempat perlindungan kita. Panggilan kita adalah untuk hidup sebagai “serdadu-serdadu perkasa dan berani dari Yesus dan Maria” untuk bertempur melawan dunia, iblis, dan kodrat kita yang busuk (Bakti Sejati no.114).
Aplikasi Praktis
Menghayati panggilan ini pada hari pertama persiapan pembaktian diri dan dalam semangat Api Cinta:
- Periksalah Hati Nurani Anda: Renungkanlah keterikatan pada nilai-nilai duniawi-kebanggaan, materialisme, atau kemandirian. Mintalah kepada Maria untuk menolong Anda meninggalkan semua itu melalui doa Api Cinta.
- Berdoalah dengan intensi: Sertakan permohonan Api Cinta ke dalam Salam Maria dan doakan doa-doa yang direkomendasikan Santo Montfort (Veni Creator Spiritus, Ave Maris Stella). Persembahkanlah doa-doa ini untuk pengudusan jiwa-jiwa.
- Lakukanlah pengurbanan: Mulai melakukan tindakan-tindakan kecil silih seperti berpuasa atau vigili (doa malam), seperti yang disarankan dalam buku harian Api Cinta, untuk menyatukan penderitaan Anda dengan penderitaan Maria demi keselamatan jiwa-jiwa.
- Undanglah Maria ke dalam rumah Anda: Seperti yang disarankan dalam buku harian Api Cinta, jadikanlah rumah Anda sebagai tempat doa, mengundang kehadiran Maria untuk membimbing keluarga Anda menuju Kristus.
Kesimpulan
“Panggilan Kita Dalam Dunia” adalah panggilan untuk hidup sebagai anak-anak Maria, yang dibaktikan kepada Yesus, dan dikobarkan oleh Api Cinta. Pada hari pertama pembaktian diri menurut Santo Montfort ini, kita mulai dengan meninggalkan roh dunia, menggemakan panggilan Api Cinta untuk membutakan Setan melalui hidup yang dipenuhi rahmat. Seperti yang ditulis oleh Santo Montfort, “Maria adalah sarana yang terpasti, termudah, terpendek dan tersempurna untuk pergi kepada Yesus Kristus” (Bakti Sejati no. 55). Melalui Hatinya yang Tak Bernoda, kita menjadi alat kasih Allah, memenuhi panggilan kita untuk membawa terang kepada dunia yang gelap.